Trend penggunaan dan penyalahgunaan napza (kata-kata 'trend' diambil berdasarkan kecenderungan favoritisme bahan yang digunakan pada masa itu) pun cukup variatif dan dinamis, dimulai dari trend alkohol, trend ganja, trend ekstasi (inex), trend obat-obatan/koplo, trend putaw (heroin), shabu, ketamin, kokain, dan masih banyak lagi lainnya. Dari beberapa jenis napza yang disebutkan ini ada yang bersifat kontemporer, ada juga yang dari belasan tahun silam hingga sekarang tidak lekang dimakan masa dan masih menjadi favorit (contoh : alkohol dan ganja).
Dan belasan tahun pun berlalu, hingga di tahun 2006 oleh Surveilans Terpadu Biologis Perilaku (STBP) menuliskan estimasi penasun (pengguna napza suntik) di Indonesia sejumlah 190.000 - 248.000 jiwa. Apakah belasan tahun perjuangan bangsa mengatasi permasalahan ini mempunyai arti yang sangat signifikan?
Di luar dari peran pemerintah dalam menangani permasalahan ini, fenomena belasan tahun tersebut ternyata membawa berbagai macam dampak dan makna tersendiri baik positif maupun negatif khususnya bagi para praktisi dan aktivis di bidang adiksi.
Dampak-dampak yang terjadi antara lain adalah :
- Variasi jenis napza yang semakin marak, membawa variasi dampak dan akibat yang sangat kompleks baik secara fisik maupun psikis. Hal ini menuntut penelitian dan pengembangan keilmuan dalam mengeksplor kembali segala metode penanganan dan penganggulangan permasalahan ini mengikuti kebutuhan yang ada.
- Tingkat kejatuhan kembali (relapse) yang tidak sedikit. Hal ini membawa dampak tersendiri bagi masyarakat, terutama dalam tingkat kepercayaan terhadap rehabilitasi, baik segi metode maupun sumber daya manusianya.
- Standar dari para praktisi yang sangat variatif. Hal ini pun juga akibat dari variasi metode yang semakin beraneka ragam jenisnya sebagai respon dari variasi jenis napza yang ada.
Menyambung kembali dengan topik yang akan ditulis di dalam wacana ini, maka berbagai reaksi dari masyarakat tersebut akan difokuskan ke pembahasan 'Kejenuhan masyarakat terhadap rehabilitasi yang ada sekarang ini'.
Kejenuhan tersebut didasari oleh beberapa faktor (diambil dari berbagai asumsi dan pendapat teman-teman praktisi), antara lain :
- Durasi program terapi yang cenderung lama, contoh : rehabilitasi dengan salah satu metode terkemuka dunia yang berdurasi antara delapan hingga dua belas bulan sampai tamat program.
- Biaya yang cukup tinggi per-bulannya (baik operasional maupun tarif yang dikenakan bagi setiap klien/pasien per bulannya).
- Tingkat relapse dari para pengguna yang cukup tinggi, beberapa diakibatkan lemahnya program 'maintaining' yang ada, membuat pandangan masyarakat menjadi cenderung skeptis terhadap permasalahan ini.
Hal-hal tersebutlah yang mendorong dan mendasari terbentuknya Private Motivator. Suatu bimbingan secara pribadi, yang sudah pasti jadwalnya dapat diatur dan disesuaikan dengan kebutuhan (fleksibel), biaya yang dikenakan per-sesi/pertemuan tidaklah tinggi, cenderung eksklusif (tidak diketahui oleh siapapun), kemudian pembimbing dapat dengan mudah dihubungi atau diakses bila terjadi sesuatu hal yang dianggap krisis.
Private Motivator atau konselor privat adalah suatu bentuk penanganan serta bimbingan yang dapat menjawab dari salah satu respon dan reaksi masyarakat, hanya saja program ini masih belum jelas dan diakui keabsahannya. Karena bila merujuk ke bidang disiplin ilmu kedokteran, maka seorang lulusan ilmu kedokteran haruslah mengambil beberapa jenis kegiatan yang tidaklah sederhana sebelum dapat membuka praktek di bidangnya.
Sedangkan standarisasi disiplin ilmu, sertifikasi, SOP, juklak, hingga semacam uji kelayakan dari seorang Private Motivator ini belum jelas, bahkan ironisnya mungkin belum ada (kalaupun ada tetapi belum disosialisasikan dan diakui secara nasional).
Jadi bisa disebut bahwa profesi Private Motivator ini adalah profesi yang dibangun berdasarkan asas kepercayaan dan permintaan dari masyarakat (pasien/klien/keluarga klien/wali klien) yang percaya dan yakin terhadap sosok figur dari konselor itu sendiri. Karena ketidakresmian ini, maka profesi tersebut cenderung susah dituntut dalam segi mal praktek, salah diagnosa, atau apalah yang sering disebut sebagai kesalahan dari suatu profesi yang umumnya terdapat di bidang kedokteran. Apa anda tertarik untuk menekuni profesi ini??
Sebagai kesimpulan akhir, profesi Private Motivator atau konselor privat ini adalah suatu profesi yang tidaklah mudah. Karena faktor yang menjadi substansi dalam profesi ini adalah esensi citra, figur, dan sosok dari pelaku profesi ini. Untuk membangun sebuah pencitraan ini tidaklah dapat ditempuh dalam waktu yang singkat, kemudian profesionalisme kerja harus tetap dipertahankan, serta penjagaan etika haruslah dikedepankan, ditunjang penguasaan dan pendalaman dari berbagai macam disiplin ilmu yang berkenaan dengan permasalahan adiksi ini, hal ini sudah pasti membutuhkan jam terbang bertahun-tahun untuk dapat memupuk dan memperoleh pencitraan tersebut. Karena itulah maka senda gurau kerap muncul dalam menganalogikan profesi ini dengan paranormal, dukun, atau apapun yang sama-sama berada di 'Grey area'.
Apakah kelak ditahun-tahun kedepan nanti, baik itu pemerintah, lembaga-lembaga atau instansi-instansi tertentu yang dapat membuat suatu kebijakan dalam hal standarisasi, kurikulum matrikulasi, uji sertifikasi, bahkan pengakuan secara sah bagi profesi ini?
Apapun dan bagaimanapun bentuk suatu profesi (yang pasti bertujuan mulia), haruslah dilakukan dengan suatu keyakinan yang mantap, karena baik-buruknya hasil dari suatu kegiatan sangat ditunjang oleh kegigihan, keyakinan, kesabaran, dan ketekunan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar