Senin, 12 Oktober 2009

Home Based Treatment


Mekanisme rawatan ini mula dikenal di negara Pakistan, Afganistan, dan negara-negara Timur Tengah lainnya. Kecenderungan pengaruh budaya mereka yang sangat kuat, yaitu men-tabu-kan pecandu wanita untuk memasuki suatu rawatan rehabilitasi adiksi NAPZA membuat mereka tidak mempunyai kesempatan untuk mengikuti program kepulihan residensial di manapun.

Kemudian, di negara-negara Asia pun mulai melakukan rawatan dengan skema ini dikarenakan alasan keamanan nama baik, bagi mereka yang berlatarbelakang keluarga kalangan pejabat/tokoh politik, selebritas, maupun pengusaha papan atas.

Di era sekarang ini Home Based Treatment mengalami perkembangan kebutuhan, selain dari dua alasan di atas, alasan "Boredum" dengan rehabilitasi residensial (akibat kasus kejatuhan semula yang masih cukup tinggi), alasan "Culture Shock" yang dialami para residen selepas keluar dari rawatan residensial, kemudian alasan finansial pun tak kalah menjadi salah satu pemicunya.

Skema Home Based Treatment :
- Staff atau tenaga pembimbing yang datang dan melakukan kunjungan ke rumah klien.
- Komitmen yang didasari dengan landasan yang kuat dan mengikat.
- Koordinasi, kerjasama, dan pelatihan pihak keluarga atau pendamping amatlah utama.
- Menggunakan model 12 Steps, Cognitive Behavior Therapy, Counselling, dan lain-lainnya.
- Fokus terapi kepada realitas dan Future Plan menjadi komoditas utama.
- Flesibilitas aturan, pola dan rencana rawatan menjadi esensi bimbingan.
- Sistem rujukan diutamakan untuk dapat menambah efektifitas rawatan.
- Progress amat menentukan durasi dari rawatan.
- Kelompok dukungan merupakan langkah akhir dari elemen pertahanan kepulihan.

Pola rawatan ini haruslah dicermati dengan baik dan seksama, Initial Assessment harus mempunyai tolok ukur yang jelas dan terarah, karena cukup banyak celah yang dapat dimanfaatkan oleh keduabelah pihak, baik klien maupun konselor itu sendiri. Contoh salah satu celah tersebut adalah sebagai pelarian dari Treatment Center, sehingga kondisi dan situasi dari klien yang membuat justifikasi layak atau tidaknya dia mengikuti pola ini harus betul-betul diidentifikasi dengan tepat.

Lantas apakah pola ini di kemudian hari dapat mengancam eksistensi rehabilitasi inap yang sudah ada?
Jawabannya tentu tidak, karena tidak semua klien mempunyai kapabilitas dan kesesuaian dengan pola ini. Secara teoritis di atas kertas memang terdengar pengaplikasian pola ini lebih mudah, tetapi kenyataannya, teknis hal ini lebih susah dihadapi dan dikerjakan baik oleh klien maupun konselor itu sendiri. Karena bagi klien merupakan hal yang tidak mudah untuk menjalani rawatan paralel dengan menghadapi kenyataan realita hidup yang ada.
Begitu halnya dengan konselor itu sendiri, tidaklah mudah memberikan bimbingan dengan frekuensi kehadiran yang tidak penuh dalam satu minggu rawatan, mereka sangat berharap kerjasama monitoring dan dukungan dari beberapa pihak yang dirasa dapat sangat membantu kelancaran rencana rawatannya. Kecenderungan untuk Slip dan berperilaku maladaptive kembali amat sangat tinggi.

Akankah pola ini berkembang dan menjadi populer di Indonesia?

Bagaimanakah dengan standarisasi skema dan modul dari rawatannya?

Anda mau mencoba menyumbangkan inovasi?

Kamis, 02 April 2009

Konselor Adiksi di Rutan atau Lapas


Idealnya konselor adiksi haruslah dapat menangani setiap klien dimanapun dan bagaimanapun situasinya, dengan kondisi klien tersebut dapat diajak berdialog atau berkomunikasi (khusus yang tuna wicara maka diperlukan keahlian khusus). Dan di lapas/rutan ada banyak potensi klien yang dapat dibimbing dan dibina, sekaligus menjadi suatu pengalaman yang sangat berharga bagi si konselor itu sendiri.

Klien di dalam rutan/lapas umumnya mempunyai karakteristik yang sedikit lebih kompleks dibandingkan dengan klien-klien lainnya yang berada di luar. Mereka umumnya cenderung berasal dari golongan menengah ke bawah, tingkat edukasi yang minim, perantauan, atau bahkan sudah tidak mempunyai keluarga dan tempat tinggal.
Sehingga permasalahan yang terdapat di dalam satu individu terdiri dari beberapa kasus yang perlu diperhatikan. Selain dari masalah adiksi itu sendiri, permasalahan moral, permasalahan pola pikir, bahkan yang cukup rumit dan tidak kalah penting adalah tujuan dalam hidup dan masa depan.

Mereka umumnya tidak mempunyai motivasi dasar yang sangat kuat tentang 'Why', 'What' kemudian 'How' yang dapat mendukung proses kepulihannya.
Mereka lebih banyak mendapat pelajaran di jalanan, maka hal-hal yang bersifat moril dan etika mengacu kepada apa yang mereka lihat, rasakan, dan belajar di jalanan. Mereka berpandu kepada hal-hal yang bersifat konkrit, sebagai contoh ; Apakah dengan kepulihan akan menjamin saya mendapat kerja?, Apakah dengan kepulihan akan membuat saya kaya?, Apakah dengan kepulihan akan membuat kedua orang tua saya kembali, setelah sekian tahun saya tidak mengetahui keberadaan mereka?, dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang secara spontan dan murni akan keluar dari mulut mereka.

Dalam hal ini seorang konselor adiksi yang berperan di dalam rutan/lapas haruslah memahami situasi dan kondisi yang akan dihadapinya nanti. Seorang konselor adiksi tersebut haruslah dapat berbicara dan bersikap yang sesuai dengan kondisi klien-klien tersebut di dalam lapas/rutan, karena substansi dari keberhasilan bimbingan sangat tergantung dengan keterbukaan dan kepercayaan klien-klien tersebut kepada sang konselor.

Konselor adiksi tersebut haruslah berwawasan luas, fleksibel, dan peka terhadap situasi dan kondisi kliennya....tertarikkah anda untuk menjadi konselor adiksi di dalam lapas/rutan??

Minggu, 29 Maret 2009

Private Motivator (konselor privat)

Fenomena penyalahgunaan dan penggunaan napza sudah marak di Indonesia sejak belasan tahun silam, hal inilah yang kemudian melahirkan rehabilitasi-rehabilitasi napza yang tersebar di seluruh pelosok negeri ini, mulai dari yang menggunakan metodologi berbasis keagamaan, medis, hingga ke arah biopsiko-sosial dan spiritual.

Trend penggunaan dan penyalahgunaan napza (kata-kata 'trend' diambil berdasarkan kecenderungan favoritisme bahan yang digunakan pada masa itu) pun cukup variatif dan dinamis, dimulai dari trend alkohol, trend ganja, trend ekstasi (inex), trend obat-obatan/koplo, trend putaw (heroin), shabu, ketamin, kokain, dan masih banyak lagi lainnya. Dari beberapa jenis napza yang disebutkan ini ada yang bersifat kontemporer, ada juga yang dari belasan tahun silam hingga sekarang tidak lekang dimakan masa dan masih menjadi favorit (contoh : alkohol dan ganja).

Dan belasan tahun pun berlalu, hingga di tahun 2006 oleh Surveilans Terpadu Biologis Perilaku (STBP) menuliskan estimasi penasun (pengguna napza suntik) di Indonesia sejumlah 190.000 - 248.000 jiwa. Apakah belasan tahun perjuangan bangsa mengatasi permasalahan ini mempunyai arti yang sangat signifikan?

Di luar dari peran pemerintah dalam menangani permasalahan ini, fenomena belasan tahun tersebut ternyata membawa berbagai macam dampak dan makna tersendiri baik positif maupun negatif khususnya bagi para praktisi dan aktivis di bidang adiksi.
Dampak-dampak yang terjadi antara lain adalah :
  • Variasi jenis napza yang semakin marak, membawa variasi dampak dan akibat yang sangat kompleks baik secara fisik maupun psikis. Hal ini menuntut penelitian dan pengembangan keilmuan dalam mengeksplor kembali segala metode penanganan dan penganggulangan permasalahan ini mengikuti kebutuhan yang ada.
  • Tingkat kejatuhan kembali (relapse) yang tidak sedikit. Hal ini membawa dampak tersendiri bagi masyarakat, terutama dalam tingkat kepercayaan terhadap rehabilitasi, baik segi metode maupun sumber daya manusianya.
  • Standar dari para praktisi yang sangat variatif. Hal ini pun juga akibat dari variasi metode yang semakin beraneka ragam jenisnya sebagai respon dari variasi jenis napza yang ada.
Berbagai ulasan mengenai dampak yang terjadi di atas tentunya mendapat reaksi yang bermacam-macam dari masyarakat, mulai tuntutan akan wadah untuk mendapatkan akses informasi tentang keilmuannya, standarisasi keilmuan di bidang adiksi, peninjauan ulang terhadap metode yang sudah ada, kejenuhan masyarakat terhadap rehabilitasi yang sedang berjalan, dan lain sebagainya.

Menyambung kembali dengan topik yang akan ditulis di dalam wacana ini, maka berbagai reaksi dari masyarakat tersebut akan difokuskan ke pembahasan 'Kejenuhan masyarakat terhadap rehabilitasi yang ada sekarang ini'.
Kejenuhan tersebut didasari oleh beberapa faktor (diambil dari berbagai asumsi dan pendapat teman-teman praktisi), antara lain :
  • Durasi program terapi yang cenderung lama, contoh : rehabilitasi dengan salah satu metode terkemuka dunia yang berdurasi antara delapan hingga dua belas bulan sampai tamat program.
  • Biaya yang cukup tinggi per-bulannya (baik operasional maupun tarif yang dikenakan bagi setiap klien/pasien per bulannya).
  • Tingkat relapse dari para pengguna yang cukup tinggi, beberapa diakibatkan lemahnya program 'maintaining' yang ada, membuat pandangan masyarakat menjadi cenderung skeptis terhadap permasalahan ini.
Dari beberapa faktor tersebutlah yang kemudian mendorong masyarakat untuk kembali ber-inovasi dan berekplorasi dalam penanganannya. Mereka menginginkan sesuatu program yang ; fleksibel, durasi pendek, aktifitas harian masih tetap dapat dijalankan, serta biaya yang tidak begitu tinggi, kemudian bimbingan yang dapat diakses kapan pun.

Hal-hal tersebutlah yang mendorong dan mendasari terbentuknya Private Motivator. Suatu bimbingan secara pribadi, yang sudah pasti jadwalnya dapat diatur dan disesuaikan dengan kebutuhan (fleksibel), biaya yang dikenakan per-sesi/pertemuan tidaklah tinggi, cenderung eksklusif (tidak diketahui oleh siapapun), kemudian pembimbing dapat dengan mudah dihubungi atau diakses bila terjadi sesuatu hal yang dianggap krisis.

Private Motivator atau konselor privat adalah suatu bentuk penanganan serta bimbingan yang dapat menjawab dari salah satu respon dan reaksi masyarakat, hanya saja program ini masih belum jelas dan diakui keabsahannya. Karena bila merujuk ke bidang disiplin ilmu kedokteran, maka seorang lulusan ilmu kedokteran haruslah mengambil beberapa jenis kegiatan yang tidaklah sederhana sebelum dapat membuka praktek di bidangnya.
Sedangkan standarisasi disiplin ilmu, sertifikasi, SOP, juklak, hingga semacam uji kelayakan dari seorang Private Motivator ini belum jelas, bahkan ironisnya mungkin belum ada (kalaupun ada tetapi belum disosialisasikan dan diakui secara nasional).
Jadi bisa disebut bahwa profesi Private Motivator ini adalah profesi yang dibangun berdasarkan asas kepercayaan dan permintaan dari masyarakat (pasien/klien/keluarga klien/wali klien) yang percaya dan yakin terhadap sosok figur dari konselor itu sendiri. Karena ketidakresmian ini, maka profesi tersebut cenderung susah dituntut dalam segi mal praktek, salah diagnosa, atau apalah yang sering disebut sebagai kesalahan dari suatu profesi yang umumnya terdapat di bidang kedokteran. Apa anda tertarik untuk menekuni profesi ini??

Sebagai kesimpulan akhir, profesi Private Motivator atau konselor privat ini adalah suatu profesi yang tidaklah mudah. Karena faktor yang menjadi substansi dalam profesi ini adalah esensi citra, figur, dan sosok dari pelaku profesi ini. Untuk membangun sebuah pencitraan ini tidaklah dapat ditempuh dalam waktu yang singkat, kemudian profesionalisme kerja harus tetap dipertahankan, serta penjagaan etika haruslah dikedepankan,
ditunjang penguasaan dan pendalaman dari berbagai macam disiplin ilmu yang berkenaan dengan permasalahan adiksi ini, hal ini sudah pasti membutuhkan jam terbang bertahun-tahun untuk dapat memupuk dan memperoleh pencitraan tersebut. Karena itulah maka senda gurau kerap muncul dalam menganalogikan profesi ini dengan paranormal, dukun, atau apapun yang sama-sama berada di 'Grey area'.
Apakah kelak ditahun-tahun kedepan nanti, baik itu pemerintah, lembaga-lembaga atau instansi-instansi tertentu yang dapat membuat suatu kebijakan dalam hal standarisasi, kurikulum matrikulasi, uji sertifikasi, bahkan pengakuan secara sah bagi profesi ini?

Apapun dan bagaimanapun bentuk suatu profesi (yang pasti bertujuan mulia), haruslah dilakukan dengan suatu keyakinan yang mantap, karena baik-buruknya hasil dari suatu kegiatan sangat ditunjang oleh kegigihan, keyakinan, kesabaran, dan ketekunan.