Rabu, 27 Oktober 2010

Adiksi Sebagai Penyakit Otak Kronis Kambuhan








Adiksi terhadap suatu zat/bahan tertentu dipandang sebagai suatu interaksi antara Neurobiological, Psychological, dan faktor-faktor sosial. Hal ini sudah dibuktikan melalui berbagai macam penelitian dan sudah direstui oleh berbagai macam modalitas terapi yang ada di seluruh dunia.

Dengan melihat pemahaman dasar "Mengapa orang menggunakan Napza?", yang notabene mengacu pada tiga F (yaitu : Fun, Forget, and Function), dari sini terpapar jelas bagaimana tiga F merupakan suatu tujuan dasar yang menurut mereka logis dan masuk akal sebagai landasan pengkonsumsian Napza. Penjabaran esensi tersebut berakar dari bagaimana seorang individu menggunakan kognitifnya untuk dapat berpikir dan merasa sesuatu, di dalam situasi tertentu. Dan memang sudah terurai oleh beberapa filsuf sejak 2300 tahun yang lalu, bahwa pola pikir dapat mempengaruhi suasana jiwa sesorang.

Sehingga, akibat dari adiksinya. kondisi otak pecandu jelas berbeda, diantaranya (Kurikulum Pelatihan Konseling Adiksi, Vietnam) ;
1. Kemampuan dan kesanggupan fungsi reseptor
2. Aktivitas metabolik
3. Ketanggapan pada isyarat persekitaran
4. Ekspresi genetik

Fakta-fakta tersebut telah menjadi justifikasi yang kuat untuk membuktikan bahwa adiksi bukanlah suatu kegagalan atau kelemahan moral. Seseorang menjadi adiksi pada intinya bersifat sukarela. Dan adiksi adalah suatu permasalahan yang kompleks, sehingga memerlukan sinergi dari berbagai disiplin keilmuan dalam upaya membantu dan membimbing seseorang yang diindikasikan menderita.

Kemudian, merefleksikan dengan realita yang ada.....

Apa yang pecandu dapat pelajari di balik teralis besi???

Bagaimana pecandu dapat mengambil hikmah dari stigma dan diskriminasi???

Bagaimana pecandu dapat menelaah isu diri dari tindak kekerasan yang didapat???

Kecanduan terhadap zat psikoaktif dapat terjadi pada siapapun.
Karena kecanduan zat psikoaktif memberikan dampak dan gejala yang sama, pola pikir dan fungsi psikis pecandu nikotin tidak ubah halnya dengan pecandu heroin.

Lantas apakah perokok pun layak menempati Hotel Prodeo akibat kecanduannya???

1 komentar: